Semakin Melokal di Singapura: Lika-Liku Naik Bus dan Mencari Tempat Makan

Januari 31, 2026, by Wulan Istri

Singapura sering dikenal sebagai negara yang maju dan serba tertata. Hampir semuanya terasa rapi, efisien, dan terencana dengan baik. Namun di balik keteraturan itu, Singapura juga menyandang predikat sebagai salah satu negara paling mahal di dunia. Berkunjung ke sana sebagai turis dengan budget pas-pasan tentu terasa sedikit mendebarkan, rasanya tidak rela jika harus membayar “segitu” mahalnya hanya untuk sepiring nasi yang sebenarnya bisa kita masak sendiri di rumah.

Dalam urusan travelling, akomodasi tempat tinggal, transportasi, dan makanan merupakan tiga hal yang paling esensial. Untuk urusan akomodasi, saya sudah lebih dulu menyerah — harga properti di Singapura memang sungguh selangit. Namun, sebagai seseorang yang agak sedikit pelit soal budget travelling, saya akan berusaha semaksimal mungkin menekan pengeluaran, terutama untuk transportasi dan makanan.

Jajaran gedung ikonik Singapura

Saya pribadi sangat 'cinta' dengan sistem transportasi di Singapura yang super terintegrasi. MRT adalah moda favorit saya karena praktis, cepat, super nyaman, dan sistemnya sangat mudah dipahami (saya yakin rate nyasar akan sangat kecil). Walaupun harus diakui pula bahwa banyaknya line, besarnya stasiun, serta banyaknya exit dan entrance gate memang kadang juga bikin pusing. Tapi, itu semua bisa dimaafkan karena papan penanda/petunjuk (signage) di Singapura sangat jelas. Sayangnya, tidak semua tempat bisa dijangkau dengan MRT. Dalam banyak situasi, bus justru menjadi pilihan paling masuk akal. Siapa yang rela merogoh kocek untuk membayar taksi? Di Singapura pula? Jadi, mau tak mau, suka tak suka, naik bus merupakan pilihan yang terbaik bagi kesehatan dompet. 

Namun, ada satu hal yang kerap menjadi masalah: naik bus di Singapura bukanlah perkara mudah, setidaknya bagi yang mentalnya tidak terlalu kuat. Sebagai seseorang yang cukup mudah tersulut emosinya, pengalaman naik bus di sini benar-benar menguji kesabaran. Tidak semua bus memberikan pengumuman yang jelas mengenai halte yang akan dituju, sesuatu yang tentu membingungkan, terutama bagi penumpang yang baru pertama kali mencoba. Belum lagi, nama halte terkadang berbeda antara yang tersemat di halte dan yang tertera di Google Maps. Hal ini sungguh membuat frustasi orang-orang non lokal. Saya, pun, sering kali tersasar. Bikin trauma saja. 

Sebagai seorang muslim, urusan perut juga punya tantangannya sendiri: menemukan makanan yang halal sekaligus terjangkau. Bukan rahasia lagi, harga makanan di Singapura bisa dengan mudah menguras dompet. Menurut saya pribadi, negara ini tidak cocok untuk dijadikan sebagai destinasi wisata kuliner bagi pelancong dengan budget pas-pasan seperti saya. Biasanya, saya datang ke sini untuk menemui kawan atau sekadar mengeksplorasi tempat-tempatnya. Karena itu, soal makan tidak menjadi masalah besar, asal makanannya sehat, halal, dan harganya ramah di kantong. 

Kalau recall, rasa-rasanya pengalaman mencari makan dan naik bus di Singapura memang sungguh menyebalkan sekaligus konyol. Saya masih ingat emosinya saya ketika tersesat atau salah turun di halte. Apalagi kalau membawa tas atau koper yang besar, sudah pasti saya bersungut-sungut. Hahaha. Berawal dari pengalaman tersebut, blog post ini lahir untuk memberikan tips and tricks sekaligus mengabadikan ingatan agar suatu saat bisa recall. 

Ringkasan kemajuan dari tahun ke tahun

Tabel ringkasan tersebut didapat dari pengalaman yang pahit sekaligus menjengkelkan. Namun, saya cukup berbangga pada kemajuan tersebut. Dari yang awalnya trauma dan 'sangat' menghindari bus jadi jauh lebih terbuka dengan opsi lain. Dulu, saya rela untuk berjalan lebih jauh demi naik MRT (menghindari tersesat), sekarang saya akan memilih opsi termudah dan terdekat. So, more rational it is! Jika kalian pemula dan tak ingin tersesat seperti saya, berikut tips and trick yang mungkin bisa sedikit membantu.

Tips menggunakan bus di Singapura: 
  1. Cek jadwal bus. Terdengar simpel namun sangat krusial. Hal sederhana ini akan menghindarkanmu berbagai kejadian yang tidak diinginkan, seperti melewatkan bus terakhir atau menunggu terlalu lama di halte. Beberapa rute tertentu mungkin beroperasi hingga dini hari, sebagian yang lain mungkin tidak. Setiap rute memiliki jadwal operasional yang berbeda-beda. Selain itu, beberapa rute memiliki frekuensi yang lebih sering sedangkan yang lain mungkin bus dijadwalkan lewat setiap 15 menit sekali. 
  2. Gunakan Google Maps. Abaikan perbedaan nama halte antara yang tertera di Google Maps dan yang tertulis di papan halte, karena hal tersebut cukup sering terjadi dan justru bisa membingungkan penumpang non-lokal. Jadi, cukup fokus pada rutenya dan selalu pantau melalui Google Maps melalui titik yang akan bergerak seiring dengan pergerakan bus. 
  3. Pencet bel ketika hendak turun. Jangan lupa memencet bel ketika mendekati halte tujuan, saudara-saudaraku setanah air! Hukumnya wajib. Fardhu ain! Tidak seperti Trans Jakarta yang mana bus pasti berhenti di setiap halte. Rumusnya begini: tak ada yang mau naik + tak ada yang mau turun = bus bablas. Jadi, jangan lupa pantau melalui Google Maps dan pencet bel supaya tak melewatkan halte yang engkau dambakan itu 😇. 
  4. Lambaikan tangan ke arah bus dan gerak cepat. Sesuai dengan rumus pada poin 3, maka 'melambaikan tangan ke arah bus' menjadi satu bagian yang sangat vital. Tanpa melambaikan tangan, eksistensi kita terkadang tidak dianggap. Tidak terlihat, invisible, seperti tokoh kartun casper. Bisa jadi sopir akan berasumsi kita akan menaiki bus rute lain jika kita tidak 'melambai'. Pengalaman pahit pada tahun 2024 bersama Peata, ketika bus melaju tanpa berhenti, kami mengira bahwa bus sudah penuh dan over capacity. Jadi, kami menunggu dengan sabar. Lama kelamaan, kok nggak ada yang berhenti? Setelah observasi barulah kami tahu bahwa kami harus 'melambai'. Kedua, segera bergerak naik jika bus sudah datang. Be gercep! Di hari yang sama, saya dan Peata kembali harus menelan kenyataan pahit. Kala itu saya dan Peata sedang berada di kawasan Orchard. Kami menunggu bus di sebuah halte yang memanjang. Bus datang dan berhenti di belakang sebuah bus dengan rute lain lalu turunlah penumpang dari dalam. Saya dan Peata masih santai karena kami pikir bus tersebut sedang antree lalu sebentar lagi akan maju untuk mengangkut penumpang. Ternyata tidak, saudara-saudara! Sopir langsung tancap gas. Saya dan Peata sontak saling tatap. Bingung. Lalu meledaklah tawa. Ah, rupanya kebiasaan 'budaya' Trans Jakarta itu tak boleh kita bawa kemari. Tak berlaku! Dasar negara yang sangat efektif dan efisien!
  5. Perhatikan urutannya. Urutan naik: pastikan kalian memiliki kartu debit/kredit contactless (bisa dengan NFC dari ponsel pintar atau jam pintar) atau kartu transportasi Singapura (e.g EZLink) dengan saldo yang cukup ➝ masuklah ke dalam bus melalui pintu depan (terletak di depan dengan sopir) ➝ tap kartu. Jika mau turun: pencet bel terdekat dari tempat duduk/berdiri kalian ➝ tap kartu ➝ melangkahlah turun melalui pintu belakang (terletak di tengah). 
Urusan transportasi, sudah. Kini, saatnya kita beralih ke urusan perut. Jujur saja, untuk urusan makanan, saya tak punya banyak tips and trick. Saya tak akan menyarankan untuk membawa indomie atau makanan dari Indonesia karena memang saya agak sedikit malas untuk membawanya (biasanya ransel sudah penuh). Plus, saya tak mau menyiksa diri dengan makan terlalu ngirit. 

Jadi, inilah sedikit tips untuk memilih tempat makan yang halal sekaligus terjangkau di Negeri Singa: 
  1. Untuk situasi darurat, 7eleven adalah penyelamat. Jika kalian sudah terlampau lapar dan ingin segera makan, pergilah ke 7eleven. Di sana tersedia berbagai makanan seperti mie instan, sandwich, onigiri, spagheti, maupun nasi dengan berbagai jenis lauk. Menu favorit saya di 7eleven adalah Thai Basil Chicken Rice. Ayam kemanginya sungguh enak! Duhh jadi ngiler bayanginnya (nelen ludah 😋). Oh ya, kalau di 7eleven, cari aja yang ada logo halanya. Harganya bervariasi, mulai dari 3 SGD untuk mie instan dan 5 - 7 SGD untuk makanan siap saji seperti nasi. 
    Thai Basil Chicken Rice dari 7eleven

  2. Sarapan di hawker center. Sebetulnya saya akan merekomendasikan untuk memilih hostel/hotel yang menyediakan sarapan sekaligus. Selain bisa jadi lebih murah juga menghemat waktu bagi kalian yang memiliki itinerary sangat padat. Namun, jika kalian tak mendapatkan sarapan dari hotel/hostel juga tak masalah. Singapura sangat dikenal dengan hawker center-nya, jadi jangan melewatkan kesempatan untuk mencicipinya! Ada banyak hawker center di Singapura jadi cobalah cari hawker center terdekat melalui Google Map. Oh ya, untuk mencari makanan halal di sini cukup tricky karena tidak ada logo halalnya. Jadi, tips dari saya: cari food stall yang  mencantumkan kata 'halal' atau .memiliki nama yang 'islami'. Sungguh terdengar lucu tapi sangat membantu, loh. Misalnya: Aziz Jafar Muslim Food di Chinatown hakwer center. Jika tidak yakin, bisa bertanya kepada seller-nya langsung. Saya pribadi biasa riset terlebih dahulu di internet atau langsung mencari di Google Maps dengan kata kunci 'halal'. Nah, setelah itu, tinggal memilih sekaligus cross check melalui 'reviews'. Nilai plus makan di hawker center: porsinya banyak, murah meriah (masih bisa makan 5SGD dengan ayam), dan rasanya 'lokal banget'. 
    Makanan di Aziz Jafar

    Nasi biryani yang didapat dari Masjid Chulia

  3. Cari restoran India. Kenapa tidak restoran arab? Jujur, saya belum pernah makan di restoran Arab di Singapura. Saya beberapa kali melewati restoran Arab di kawasan sekitar Masjid Sultan dan harganya sepertinya cukup membuat kantong cepat kering. Jadi, saya akan merekomendasikan restoran India. Pertemuan saya dengan restoran India pun tak disengaja. Di Malaysia, saya cukup sering makan di restoran India, namun di Singapura beda cerita. Saat saya solo traveling ke Singapura pada Mei 2025 silam, saya tak sengaja menemukan restoran India dekat dengan penginapan saya. Saya juga browsing untuk memastikan harga serta menu-menu yang dijual. Surprisingly, harganya mirip dengan makanan cepat saji di 7eleven! Ada nasi biryani, roti canai, pratha, dsb. Dengan harga yang sama tapi bisa dapat makanan yang jauh lebih fresh dan proper. Jadi, kenapa restoran India? Porsinya banyak, murah, dan biasanya halal. Harganya bervariasi, mulai dari 3 SGD. Oh ya, teman-teman juga bisa cari restoran melayu, ya!
    Canai dan dua gelas es teh tarik

    Maaf, blur. Seporsi (besar) nasi dan lauk dan es teh tarik (mintalah nasi setengah porsi jika kalian tak kuat makan banyak)
Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan saya tentang adaptasi, berawal dari penuh drama, emosi, dan keluhan, perlahan menjadi lebih santai dan rasional. Naik bus yang dulu terasa traumatis, justru sekarang demen karena rasanya lebih efisien saja. Mencari makan yang dulu bikin pusing karena takut harganya 'mencekik', kini bisa dihadapi dengan strategi. Singapura memang bukan destinasi termurah, tapi dengan sedikit usaha, sambat, dan penerimaan, negara ini mungkin akan membuatmu jatuh hati dan membuatmu berkunjung berkali-kali. Semoga cerita dan tips sederhana ini bisa membantu (atau setidaknya menghibur). Kalau tersasar, kesal, atau boncos sedikit, tenang saja… kalian tidak sendirian. Anggap saja bagian dari petualangan. 😉😄😝


Salam melokal,

Dari yang sempat trauma naik bus, tapi tetap sok lokal
 

0 komentar

Instagram

Featured Post

Serba-Serbi Persiapan Solo Trekking ke Poon Hill Nepal

Perjalanan solo ke Nepal ini lahir dari dua kata: promo dan penat. Dapat promo tiket pesawat maskapai full service ditambah dengan hidup ras...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *