Serba-Serbi Persiapan Solo Trekking ke Poon Hill Nepal

Februari 01, 2026, by Wulan Istri

Perjalanan solo ke Nepal ini lahir dari dua kata: promo dan penat. Dapat promo tiket pesawat maskapai full service ditambah dengan hidup rasanya sudah terlalu sesak dan penat. Setelah kupikir-pikir, nggak ada salahnya untuk memberi ruang jeda untuk kontemplasi dan 'kembali ke alam'. Setelah melalui keraguan dan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk memilih trekking sebagai aktivitas utama 'ambil jeda' kali ini. Solo. Sendirian. Walaupun di awal sempat goyah dan ragu dengan ide 'solo', pada akhirnya keputusanku bulat: aku pengen pergi sendirian, sesuai plan awal. Solo travel, solo trekking, apalah itu sebutannya, terserah. Tanpa guide. Tanpa porter. 

Trekking ke Nepal tanpa guide dan porter terdengar terlewat nekat sampai aku mikir, “Ini aku beneran mau nanjak ke kaki gunung Himalaya modal nekat?” Dengan kondisi fisik yang jauh dari kata ideal dan pengalaman trekking yang bisa dihitung pakai satu jari, aku sadar: kalau mau nekat, setidaknya nekat yang terencana. Karena aku penginnya trekking tanpa bantuan guide maupun porter, jadi aku berusaha mempersiapkan diri dengan baik. Aku mencoba riset dari berbagai sumber: website/blog, youtube, reels (instagram), DM strangers yang sudah pernah melakukan trekking ke Nepal, hingga bergabung ke grup trekking Nepal di Facebook. Bahkan nih, ya, aku sampai rela membuat akun TikTok untuk mendapatkan informasi lebih dari VTok, sodara-sodara sebangsa dan setanah air! (Bayangkan betapa beratnya aku harus mematahkan prinsipku untuk tak akan membuat akun TikTok? 😭)

Setiap pulang kerja, aku menyempatkan waktu untuk riset 'apa saja yang harus disiapkan'. Dibandingkan dengan ‘ntar kalau sendirian gimana, ya?’, aku jauh lebih menghawatirkan kondisi fisik dan persiapan mental. Jujur saja, kondisiku saat itu: jarang hampir tidak pernah olahraga, belum pernah mendaki gunung di Indonesia, dan sama sekali belum pernah trekking jarak jauh. Pengalaman trekking yang kupunya cuma satu: trekking di Taman Hutan Raya Bandung hehehehe 😁. Tetep PD gitu mau trekking di Nepal? Ya PD aja lah. Kalau urusan PD dan nekat buat urusan travelling, aku juaranya! #KibasRambut 😤😆😇.

Annapurna Range dilihat dari Sarangkot 

Riset memang menghabiskan waktu, terlebih lagi kalau kita sama sekali nggak ada pengetahuan dan benar-benar harus mencari tau dari nol – benar-benar mengulik from the scratch. I know the hustle and how frustrating it is apalagi kalau ndak ada teman atau kenalan yang bisa membantu. So, here I wrapped few things to note sebelum merencanakan trekking ke Nepal. 

Catatan: Tulisan ini merupakan catatan jujur: tentang apa saja yang perlu dipikirkan, disiapkan, dan (kadang) diterima dengan pasrah sebelum memutuskan trekking ke Nepal. Semoga bermanfaat, ya!

Urusan Trekking 

  • Menentukan tujuan dan rute trekking 
Ada banyak sekali jalur trekking yang tersebar di seluruh Nepal. Aku pribadi memilih Pokhara sebagai kota titik keberangkatan karena beberapa alasan: 1) banyak jalur trekking terkenal; 2) akses mudah karena touristy; 3) ada teman di sana jadi sekalian mau mampir buat ketemu hehehe. Pokhara merupakan kota 'terbesar' kedua di Nepal setelah Kathmandu. Kota ini adalah gerbang menuju jalur trekking terkenal seperti ke Annapurna Base Camp (ABC), Himal Mardi, juga Australian Base Camp. Untuk urusan tujuan dan rute trekking, aku pribadi memilih Poon Hill dan rutenya kusesuaikan dengan waktu yang aku punya sekaligus kondisi fisik. Yang agak bikin sedih dan miris, ujung-ujungnya aku harus merubah rute trekking karena ada kejadian yang tidak diinginkan (re: bus strike yang bisa dibaca di postingan sebelumnya).

 
Apa alasanku memilih Poon Hill? Ada beberapa alasan: 1) Poon Hill memiliki ketinggian 3.210 mdpl and considered sebagai salah satu jalur trekking yang ramah semua usia – termasuk anak-anak dan lansia (hehehe maklum, aku menyamakan diriku dengan lansia karena aku tak ada riwayat pernah naik gunung dan rajin olahraga); 2) jalur ini cukup turisti sehingga tak perlu khawatir dan merasa takut ‘sendirian’; 3) ada beberapa rute yang bisa dipilih dan disesuaikan dengan hari (bahkan jika kamu hanya punya waktu dua hari, bisa loh! Limited-day friendly pokoknya). 
 
Nah, teman-teman bebas menentukan mau ke mana. Yang penting jangan memaksakan diri dan sesuaikan dengan kondisi kalian masing-masing

  • Pelajari dan urus dokumen yang dibutuhkan
Sama seperti di Indonesia, kita juga memerlukan beberapa dokumen trekking. Dokumen yang diperlukan biasanya berbeda antara yang satu dengan yang lain. Misalnya, untuk ke ABC kita hanya perlu permit dari Annapurna Conservation Area Project (ACAP) sedangkan untuk ke Manaslu Circuit memerlukan tiga permit: Manaslu Restricted Area Permit (MRAP), Manaslu Conservation Area Project (MCAP) Permit, and Annapurna Conservation Area Project (ACAP) permit.
 
Untuk ke Poon Hill, dokumen yang diperlukan adalah: Annapurna Conservation Area Project (ACAP) Permit. Itu saja? Iya! Itu saja! Jadi, Poon Hill ini masuk dalam kawasan konservasi Annapurna yang dilindungi. Uang yang kita bayarkan ini akan digunakan untuk membiayai konservasi area ini. Oh, ya... kalau kalian mendapatkan info bahwa kalian harus apply Trekkers' Information Management System (TIMS), coba konfirmasi kembali. Aku sudah riset dan ternyata TIMS itu unofficial dan tidak pernah ada pernyataan resmi tentang hal tersebut. Pengalaman saya, saya hanya membaca ACAP Permit dan oke-oke saja. Pun, tak ada yang menanyakan TIMS tersebut.   
 
Bagaimana cara mendapatkannya? Kalian bisa mengurusnya secara offline maupun online. Untuk pengurusan ACAP secara offline dapat dilakukan di kantor National Trust for Nature Conservation (NTNC) yang ada di Kathmandu maupun Pokhara  jangan lupa bawa pas foto. Karena tak punya banyak waktu di Kathmandu dan Pokhara, aku memilih opsi daring (online) dan apply sendiri melalui website. Jujur awalnya ragu karena ada yang bilang kalau izin ini hanya bisa didapatkan melalui agen di sana. Aku tetep 'trabas' aja karena ada juga yang mencoba apply mandiri dan berhasil. Walaupun rasanya deg-degan dan was-was juga karena cukup banyak yang memberikan testimoni prosesnya nyangkut (saldo sudah terpotong tapi dokumen permit tidak dikirimkan). Alhamdulillah, waktu itu prosesnya sangat mulus! 
 
Jika ACAP Permit sudah di tangan, simpanlah baik-baik dan jangan sampai hilang. Kalau kamu apply daring, jangan lupa print dulu dari Indonesia. Biasanya akan ada pengecekan di beberapa titik. Oh, ya… jangan lupa bawa foto kopi paspor, ya. Jaga-jaga kalau perlu diperlihatkan. Gausah bawa banyak, nanti mubazir. Aku dulu bawa 5 lembar karena katanya apa-apa perlu FC paspor, salah satunya buat beli SIM card. Eh pas aku beli SIM Card, gaperlu, tuh 😔. Katanya merela cukup foto paspor aja 😎.

Contoh ACAP (sumber)

  • Guide dan Porter 
Adanya guide dan porter tentu akan sangat mempermudah perjalanan. Dengan adanya mereka kita tak perlu takut tersasar, punya teman ngobrol, bisa mendapatkan informasi dan insight lebih, juga tak akan terlalu capek membawa barang-barang (ngomong-ngomong, orang-orang Sherpa Nepal sangat terkenal dengan kemampuannya membawa beban berat di medan yang sulit, loh!).  Jika dirasa kalian tidak PD solo-trekking dan kebetulan tidak ada teman plus tak mau repot mengurus semuanya sendirian (transportasi, makan, penginapan, perizinan, dll), aku menyarankan buat pakai guide. Kalau kalian pengin beban di pundak lebih ringan, bisa pakai porter. Oh ya, porter kadang akan jalan duluan atau jalan belakangan, ya.
 
Dulu, ada regulasi yang menyatakan bahwa guide itu mandatory kalau kita mau trekking ke ABC (termasuk ke Poon Hill). Kabar baiknya (?) semenjak tahun 2025, peraturan yang mulai diberlakukan tanggal 1 April 2023 tersebut dicabut dan guide tidak lagi bersifat wajib. Jika budget kalian terbatas atau mungkin mau lebih leluasa, mungkin kalian bisa memilih opsi solo tanpa guide dan porter. Jangan lupa cek peraturan terkini, ya. Beberapa jalur tertentu masih mewajibkan guide demi keselamatan, misalnya Manaslu Circuit Trek dan Upper Mustang Trek. 

  • Cuaca 
Riset dan pastikan keadaan cuaca di Nepal melalui internet sebelum memesan tiket pesawat. Jangan seperti aku – si paling nekat dan tanpa pikir panjang ini – langsung tancap gas beli tiket karena kepincut promo. Akibatnya, aku harus pasrah pada Tuhan dan alam dan berakhir trekking di musim penghujan. Hasilnya? Mostly selama  trekking view gunungnya tertutup awan 😭. Mau bagaimana lagi? Biaya reschedule hampir sama dengan harga tiket. Jadi, ya sudahlah. 
 
Periode terbaik untuk trekking yakni bulan September-November dan Februari-April / Maret-Mei. Pada bulan-bulan ini biasanya langit cenderung lebih cerah dan jarang turun hujan, sehingga kesempatan untuk melihat pemandangan gunung bisa kalian dapatkan secara maksimal. Sayangnya, pada periode ini pula jalur trekking akan lebih padat dibanding periode lainnya sehingga dapat berakibat pada banyaknya penginapan yang penuh (packed). Oleh karenanya pergi trekking sendirian tanpa guide kadang bisa jadi tricky karena kita tidak bisa reservasi penginapan melalui online travel agent (OTA) semacam traveloka (Oh ya, btw… kita tidak perlu membawa tenda karena nanti kita akan tidur di semacam tea house/guest house yang tersedia di sepanjang jalur trek). Jika kalian mau pergi ke Poon Hill, aku sangat menyarankan untuk pergi pada bulan pertengahan Maret - akhir April. Pada periode ini kalian bisa melihat Bunga Rhododendron bermekaran di sepanjang trek. Katanya cantik banget!

  • Peralatan trekking
Kalian, tentu, bisa membawa peralatan trekking dari Indonesia. Hanya saja hal ini bisa jadi merepotkan dan terkesan ‘ribet’ bagi beberapa orang (termasuk aku si paling malas ribet ini). Belum lagi kalau pesawat yang kita gunakan semacam Batik yang tak mendapatkan jatah bagasi. Malas banget ga si kalau harus beli bagasi? Eits…. Tenang, sodara-sodara! Di Nepal, kalian bisa menemukan alat-alat trekking dengan mudah, baik di Kathmandu (yang terkenal ada di darah Thamel) maupun di Pokhara – walaupun jujur saja barang-barangnya biasanya KW. Tapi usah risau! Saya sudah riset (membaca dan menonton video) mengenai kualitas barang-barang KW tersebut dan so far testimoninya sangat bagus! Lebih dari cukup!
 
Opsi yang tersedia pun beragam. Kita bisa memilih untuk membeli baru, membeli secondhand, maupun rental. Saya pribadi lebih suka rental karena saya tak mau repot membawanya kembali ke Indonesia. Plus, saya lebih suka rental di Pokhara dibandingkan Kathmandu karena saya tak perlu menggotong peralatan-peralatan tersebut dari Kathmandu menuju Pokhara pulang-pergi. Pengalaman saya pribadi, saya sempat rental sarung tangan dan trekking pole (waktu itu saya lupa tidak sewa headlamp dan berimbas harus menggunakan flash ponsel untuk melihat jalur trek pada pagi buta – sangat merepotkan). 
  • Aplikasi offline map 
Peta merupakan alat navigasi yang akan sangat membantu dalam petualangan trekking. Terlebih lagi jika kamu baru pertama kali ke sana tanpa guide. Sebetulnya, sinyal di sepanjang jalur trek menuju Poon Hill cukup oke, loh. Kita bisa mengakses internet dari titik awal keberangkatan hingga Poon Hill. Tapi, aku tetap merekomendasikan kalian untuk mengunduh aplikasi offline map. Aku punya pengalaman yang cukup mendebarkan waktu trekking tahun lalu: sinyal internet aku hilang di sepanjang jalur Ulleri – Gorephani. Implikasinya adalah aku nggak bisa mengakses Google Maps dengan akurat. Sendirian, tanpa teman, tanpa guide. Apa nggak deg-degan, tuh? 
 
Untungnya sebelum sinyal 100% hilang, aku menyempatkan waktu untuk berhenti dan mengunduh aplikasi offline map. Alhamdulillah… hidupku selamat ☝😭 Sebetulnya, tanpa map pun besar kemungkinan kita tidak akan tersesat karena papan penandanya cukup jelas di setiap cabang. Hanya saja, aku butuh validasi dan perlu assurance lebih. Aku perlu yakin dan memastikan tidak salah rute karena konsekuensinya akan panjang. Hahaha sepertinya semenjak pulang dari Singapura, aku jadi lebih rewel masalah signage soalnya di Singapura berasa dimanja banget! Belum juga ada 1 km sudah ada signage lain. Love you, Singapore! Oke, kembali ke topik utama. Aku pribadi pakai aplikasi maps.me dan menurutku sangat akurat. Bisa diunduh di Playstore, ya.
Tampilan MAPS.ME

Urusan Fisik 

Aku rasa bagi teman-teman yang sudah sering lalu-lalang naik-turun gunung di Indonesia tidak akan mengalami banyak kesulitan ketika trekking di sini. Medan trekking di sini relatif lebih teratur. Tak perlu cepat yang penting stamina stabil dan terjaga selama perjalanan. Untuk teman-teman yang ingin trekking ke jalur ABC, EBC, dsb, saranku perlu olahraga khusus untuk persiapan. Jika perlu bisa pakai personal trainer (PT) supaya lebih mantap dan on track.

Untuk jalur Poon Hill, aku rasa sebetulnya tak perlu persiapan fisik khusus ‘yang gimana-gimana’. Aku sendiri hanya sempat olahraga lari dua kali (hehehe – jangan dicontoh, ya), lebih sering pakai tangga kalau di kantor (kantonya di lantai 4), dan jalan kaki sekitar 20 ribu langkah tiap harinya selama di Singapura dan Malaysia. Jarak antara pembelian tiket dan keberangkatan juga hanya sekitar satu bulan. Ditambah lagi, saat itu pekerjaan di (eks) kantor sedang sangat padat, jadi aku sering keburu tepar dan akhirnya melewatkan olahraga (iya, ini alasan klasik dan akal-akalan aku yang malas aja he he). Meski begitu, saranku tetap sama: usahakan untuk rutin bergerak dan berolahraga, apa pun bentuknya  lari, bersepeda, pergi ke gym, atau aktivitas fisik lainnya – agar tubuh lebih siap saat trekking.

Oh, ya… persiapan mental juga jangan lupa, ya! Hanya saja untuk bagian ini (sejujurnya) aku nggak bisa kasih saran karena tidak terlalu paham. Aku pun ke sana hanya bermodal nekat dan keberanian yang meluap-luap #JanganDitiru. 

Lain-Lain

  • Obat-obatan dan printilan lain
Untuk urusan obat dan printilan, aku tidak membawa banyak barang. Isinya cukup basic: Tolak Angin, minyak kayu putih, obat maag, balsem, hansaplas, dan asam mefenamat. Oh, ya, saya juga bawa hand, foot, dan body warmer. Aku tidak sempat membeli obat AMS sebelum berangkat, jadi akhirnya membeli obat acute mountain sickness (AMS) sekaligus paracetamol di apotek setempat. So far, alhamdulillah, obat-obatan tersebut nggak kepakai kecuali Tolak Angin.
 
Apakah perlu bawa tablet water purification? Boleh… silakan. Aku pribadi tidak menggunakannya karena setiap kali kehabisan air, aku memilih membeli air mineral di warung atau penginapan. Memang tidak terlalu eco-friendly, sih, tapi karena aku sendirian, aku gamau ambil risiko lebih. Nggak bisa bayangin kalau sakit perut terus harus tetap jalan. So, buy the mineral water is the safest option for me that time.

Obat-obatan yang dibeli di Nepal

Cinammon Tolak Angin girl

  • Bawalah uang cash yang cukup
Pastikan membawa uang cash yang cukup. Seperti yang pernah aku ceritakan di tulisan sebelumnya, punya pengalaman pahit gara-gara urusan uang itu rasanya nggak enak banget. Karena itu, saranku tetap siapkan uang cash dalam mata uang asing secukupnya. Tidak perlu berlebihan, yang penting cukup untuk membayar Visa on Arrival (VoA). Jaga-jaga jika kasusnya seperti aku: tidak bisa melakukan tarik tunai. Setidaknya, dengan membawa cash, kamu bisa melewati proses imigrasi terlebih dahulu tanpa drama.  

 

  • Riset dan rencanakan transportasi

Ada dua macam transportasi yang aku gunakan salam di Nepal: transportasi antar kota dan dalam kota. Aku pribadi menggunakan Tourist Bus untuk perjalanan Kathmandu – Pokhara (PP) yang bisa dipesan melalui aplikasi Klook. Jika kalian ingin sampai lebih cepat, kalian bisa menggunakan pesawat dan membelinya di OTA. Untuk transportasi dalam kota, aku memilih menggunakan transportasi online Pathao: mudah dan praktis! Oh, ya, menurutku rasa harganya cukup terjangkau, kok. Minusnya: bayarnya hanya bisa pakai cash. Jadi sedia aku sebelum hujan cash hukumnya wajib. Fardhu ain!

 

  • SIM card 
Sebetulnya ada banyak opsi untuk tetap bisa terkoneksi dengan internet: roaming, menggunakan modem portable (e.g. Java Mifi), e-SIM, atau membeli SIM card lokal. Aku memilih opsi terakhir karena menurutku harganya cukup terjangkau dan aku perlu nomor lokalnya untuk registrasi Pathao (semacam Grab di Nepal). Jika kalian ingin melakukan trekking ke Poon Hill, aku menyarankan kalian untuk memilih provider dari NTC. Di Nepal, provider yang paling terkenal adalah NTC dan NCel. Aku beli yang NCel dan yak… ndak ada sinyal di sepanjang Ulleri – Godhepani 😣. Oh, ya, seseorang yang aku temui di perjalanan pakai NTC dan sinyal dia lancar jaya tanpa masalah. 

 

  • Tiket pulang dan bukti pemesanan hotel 
Pastikan donwload dan menyimpan tiket pulang dan bukti pemesanan hotel dengan rapi di ponsel. Pengalamanku, petugas imigrasi di Nepal sama sekali tidak menanyakan hal ini. Justru petugas di lost and found yang menanyakan hal tersebut. Agak aneh sih, tapi waktu itu memang aku sempat tertahan lama di imigrasi (drama tidak memiliki cash) jadi koperku masuk ke lost and found –karena puannya tak kunjung datang menjemput hahaha. Untungnya aku sudah mengunduhnya –saat itu aku belum punya akses internet. Waktu aku masih berusaha mencari file-nya, petugasnya tanya “Do you have a friend here?” dan waktu kujawab ‘iya’, beliau langsung mempersilakanku pergi tanpa harus menunjukkan dokumen tersebut. LOL. Tapi, tetap jaga-jaga, ya! Kadang petugas bandara di Indonesia juga akan menanyakan hal yang sama.  


Trekking ke Nepal memberiku kesempatan untuk 'diam', menikmati keheningan, dan mendengarkan  diri sendiri. Perjalanan ini juga menyadarkanku bahwa 'ternyata aku bisa sejauh ini' dan 'ternyata masih banyak orang yang baik' (bukankah semakin ke sini makin banyak orang yang melakukan 'kebaikan transaksional'?). Perjalanan nggak selalu mulus, nggak semua pemandangan bisa dinikmati secara sempurna, tapi perjalanan tetaplah perjalanan. It is what it is, dan itu yang terpenting. Jadi, kalau kamu ingin trekking ke Nepal sendirian, silakan. Tapi ingat: persiapan itu wajib, ego itu opsional, dan nekat sebaiknya ditemani doa serta Tolak Angin.

Catatan: Semoga catatan ini bisa jadi teman riset, penguat mental, atau sekadar pengingat bahwa nekat itu sah-sah saja. Selamat merencanakan trekking versimu sendiri, dan semoga langkahmu selalu sampai, meski kadang rencana harus terpaksa sedikit melenceng.





salam capek tapi bahagia, 



wulan, temennya Tolak Angin

0 komentar

Instagram

Featured Post

Serba-Serbi Persiapan Solo Trekking ke Poon Hill Nepal

Perjalanan solo ke Nepal ini lahir dari dua kata: promo dan penat. Dapat promo tiket pesawat maskapai full service ditambah dengan hidup ras...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *