Temasek: Cerita tentang Taman dan Secangkir Kopi

Januari 31, 2026, by Wulan Istri

Pemilik blog ini dulunya suka sesorah bahwa besar kemungkinan ia tak akan lagi ke Singapura. Ya karena apa? Di Singapura, kan, adanya itu-itu saja. Kota penuh dengan beton. Sekali saja ke sana sudah cukup, pikirnya kala itu. Nyatanya? Penulis sudah ke sana lebih dari tiga kali. Selalunya hanya kunjungan singkat karena memang biaya penginapan di sana cukup mencekik untuk kantong penulis. Alasan di balik kunjungan-kunjungan tersebut pun sebetulnya tak cukup jelas, kecuali kunjungan pertamanya di tahun 2019. Memang sepertinya Singapura ini memiliki sebuah mantra sihir yang tersembunyi. Pemilik blog ini pun jadi korban, ia terpikat. Sungguh aneh dan tak habis pikir. Kena pelet dia. Rupa-rupanya. 

Sebuah 'insiden' kecil terjadi pada tahun 2024 tepatnya di bulan Juli. Saat sedang asik berselancar di internet, penulis melihat promo Batik Air dengan rute Jakarta - Singapura yang dibanderol seharga IDR 417.600,00. Kapan lagi ke Singapura dapat harga murah dan bapat bagasi 20 kg? pikirnya. Mohon maklum, selama ini dia hanya mampu membeli tiket low-cost carrier macam AirAsia atau Jetstar. Lekas-lekas ia melihat kalendar tahun 2025 dan mencoba menelisik tanggal merah. Hyaak! Late of May it is! Penulis, antara setengah sadar atau tidak sadar, memencet tombol 'pesan'. Tak hanya sampai situ, penulis pun sepertinya tak sadar ketika melakukan pembayaran hingga transaksi berhasil. Kesimpulannya? Ia terlena oleh rayuan gombal promo tiket pesawat. Jadwal keberangkatannya masih tahun depan namun penulis sama sekali tak peduli dengan yang lain. Ia sama sekali tak berpikir nanti di sana mau ngapain aja, mau tinggal dimana, nanti pas mendekati hari-H apakah punya cukup uang, termasuk mahalnya tiket pulang ke Indonesia. Prinsipnya satu: Serahkan pada Tuhan. 

Pada dini hari di tanggal 29 Mei 2025, penulis tiba di Negara Singa. Selama dua hari satu malam ke depan, kota sekaligus negara ini akan menjadi ruang eksplorasi 'hijau'-nya!. Tak ada to-do list yang spesifik, di kepalanya hanya ada dua hal yang benar-benar ingin ia lakukan: menyambangi taman-taman di sana dan menikmati secangkir kopi. 

Jewel di kala pagi

Vortex dan MRT yang berpapasan

Mendarat pada dini hari di Singapura berarti memiliki dua pilihan: tidur di ho(s)tel atau menyiksa diri dengan tidur di bandara. Penulis, tentu saja, memilih opsi terakhir walaupun sebetulnya ia tak bisa benar-benar tidur. Ia akan bertahan di sana hingga pagi karena ia ingin menunggu air terjun vortex menyala sambil melamun, menyaksikan MRT yang berpapasan tepat di depan vortex, dan mencuri pandang pada nona dan nyonya cantik berolahraga pilates. Och! I love to be there! I love to be surrounded by the plants! I just love the greens and Jewel never disappoints!

Puas melamun di Jewel, penulis melanjutkan perjalannya menuju downtown dengan bus. Taking bus instead of MRT? Woooff! Feels so local! (kibas rambut). Baginya, naik MRT sebetulnya adalah pilihan yang paling aman dan nyaman karena kecil kemungkinan untuk tersesat. But here she went! Her hostel was much easier to reach by bus. So, she took the risk! 

Pemandangan dari bus: disambut oleh mobil terbakar

Selepas menitipkan koper dan tas di hostel, ia melangkah menuju taman terdekat, Fort Canning Park. Kota ini baru saja diguyur hujan deras, sekarang rintik gerimisnya masih tersisa. Ia menapaki tangga yang tak bisa dibilang sedikit jumlahnya. Rutuk pun tak bisa dihindari, 'Salah siapa ga pernah olahraga! Ngos-ngosan, kan?'  Demi foto ikonik Fort Canning Park, dia rela siksa raga hingga ke puntjak! (?). Di peta, taman ini tampak kecil, namun kenyataannya cukup luas. Ikon Fort Canning Park belum juga ia temukan, tetapi di tengah “perburuan” itu, langkahnya justru terhenti. Ia terpaku pada sebuah pohon tua yang kokoh dan indah. Terlihat begitu magis dengan tangga kayu yang berdiam tenang di bawahnya. Cabang-cabang dan daunnya seolah tersusun sempurna. She promised herself she would return someday — and she did. The very next day, she came back to the park and spent hours sitting on a bench beneath it.

Berbekal G-Maps dan papan petunjuk (signage), penulis akhirnya menemukan ikon yang dicari. Yaps! Memang agak sedikit tersembunyi, letaknya agak jauh di belakang. Yang agak sedikit mengejutkan, gerimis-gerimis begini pun antriannya banyak! Tak terlalu lama, ia pun segera angkat kaki. 

Pohon tua dilihat dari bawah anak tangga

Pohon tua dilihat dari atas

Papan petunjuk

Ikon Fort Canning Park 

Pohon tua yang cantik (foto diambil keesokan harinya)

Tujuan selanjutnya adalah mencicipi kopi di Apartment Coffee. Ide ini ia dapatkan dari travel blogger favoritnya, Yuki Anggia,  yang sempat mampir duluan pada kunjungannya ke Singapura beberapa waktu silam. Menurut sumber dari internet, coffee shop ini menempati ranking 6 sebagai coffee shop terbaik di dunia — ranking 1 di Asia. Sebagai pecandu kopi yang sebetulnya tak tahu-menahu seluk beluk kopi pun tak mau ketinggalan! Mumpung lagi di Singapura, ga sih? 

Berbekal membaca riviu dari Google, ia sudah menyiapkan mental jika harus mengantree panjang. I think it's her luck! Tak perlu menunggu lama, ia langsung mendapatkan seat. Nama menu yang tertera di daftar menu sungguh... er.... tidak familiar bagi seseorang yang mengaku sebagai pecandu kopi itu. Hah, sudahlah. Apa kubilang? Sepertinya memang penulis ini pecandu kopi gadungan. Bukankah begitu kelihatannya? 

Akhirnya, dia memilih salah satu menu dan berpasrah serta berharap semoga ia menyukai seduhan kopi yang disajikan. Ia duduk di depan barista, mencoba mengamati tangannya yang lihai dan lincah menuangkan air panas ke dalam gelas melalui filter. Entahlah, ia tak begitu paham kenapa alat yang digunakan begitu banyak untuk menyajikan satu cangkir kopi saja. Juga, ia begitu takjub pada barista yang meminum setiap sisa kelebihan kopi yang akan disajikan. She wondered how many liter coffee does he take each day? Diam-diam dia senang melihat barista di depannya ini yang (sepertinya) sangat passionate saat membuat kopi. She adores people who are passionate about their job. Kopi selesai dibuat lalu disajikan. Inilah saatnya mencicipi kopi dari kafe yang katanya nomor satu di Asia itu! (Catatan: tak usah kalian tanya pendapatnya tentang rasa kopi itu. Aku yakin, dia sendiri berpikir apa yang bikin kopi itu terasa spesial)

Bagi teman-teman yang tak bisa atau biasa minum kopi, tak usah khawatir! Di sini juga menyediakan opsi minuman lain seperti cokelat. Oh ya, batasan untuk duduk ngopi cantik di sana maksimal dua jam. Fair enough. Ngomong-ngomong, disain interiornya sangat manis, hangat, dan minimalis. Cantik banget! Apakah penulis akan datang lagi? Well... let's see! I think she should try Blue Bottle for the next visit! Hopefully. 

Peralatan menyeduh kopi

Daftar menu

Proses pembuatan kopi

(bukan) Secangkir Ethiopia Chelbesa

Lepas dan puas meminum kopi, penulis melanjutkan perjalanannya dengan MRT menuju Singapore Botanic Garden. Ini pertama kali baginya berkunjung ke taman ini dan memutuskan untuk menjelajah tanpa arah. Taman seluas dan secantik ini dapat dinikmati oleh siapapun secara gratis (kecuali beberapa spot berbayar). Tak ada orang merokok (karena merokok dilarang di tempat umum), tak ada sampah berceceran, udara bersih, dan dikelilingi oleh tanaman yang sangat terawat. Sungguh, rasanya betah sekali di sini. Mungkin seharian penuh di sini pun tak akan bosan. Oh ya, kita bisa melihat otter di sini juga! 
Gazebo di Botanic Garden

Pemandangan dari gazebo

Berang-berang (otters)

Dedaunan yang lebat

Dedaunan hijau selepas terkena guyuran hujan

Tanaman air

Air terjun artifisial

Destinasi selanjutnya adalah Garden by The Bay. Datang kemari tentu tak lain dan tak bukan untuk menyaksikan The Garden Rhapsody Show, pertunjukan lampu di Supertree Grove yang digelar setiap malam hari. Pertunjukan ini gratis, siapapun boleh datang dan menikmati. Tips: jika ingin menonton sekaligus merekam pertunjukan dari spot terbaik, sebaiknya datang 1–2 jam sebelum show dimulai. Terdengar berlebihan, memang. Namun kenyataannya, datang setengah jam sebelum pertunjukan biasanya sudah terlambat, area menonton kerap penuh. Banyak pengunjung sudah duduk rapi, bahkan ada yang menggelar tikar agar bisa menikmati pertunjukan dengan lebih nyaman dari posisi terbaik.

Malam itu, penulis menyaksikan pertunjukan hingga dua ronde sekaligus. Mumpung datang sendirian, ia bebas pulang kapan saja. Menikmati lampu-lampu yang meliuk, menyala dan padam bergantian sesuai waktu yang telah ditentukan ternyata cukup mengasyikkan. Di kejauhan pikirannya melayang, muncul rasa penasaran: siapa orang yang memrogram cahaya-cahaya ini agar bergerak selaras dengan irama dan ketukan lagu? Apakah memang ada pekerjaan khusus untuk itu? Jika ada, apa nama posisinya? Sound and light engineer, mungkin? 

Singapore di malam hari

Di bawah Supertree Grove

Satu taman lagi yang sempat dikunjungi selama solo traveling di Singapura: Labrador Nature Reserve. Terima kasih kepada Kak Felicia, (ex) mahasiswa NUS, yang kerap mengunggah video reels perjalanannya menyusuri berbagai taman di Singapura. Taman ini mungkin tidak serapi dan setertata taman-taman yang lain but it has its own charm. Taman ini berada dekat dengan coastline sehingga kita bisa mampir ke pantainya! Taman di pantai! Uniknya, ada trail khusus yang biasa digunakan untuk olahraga lari atau jalan kaki. Trail ini memanjang hingga ke atas perairan laut dangkal, memanjang seperti trestel. Selain untuk berolahraga, beberapa warga lokal juga memanfaatkannya sebagai tempat memancing. 

Di sana ada beberapa playground sederhana. Ada jungkat-jungkit, ayunan, dan beberapa alat yang penulis tak tahu apa namanya. Usah khawatir jika lelah, tersedia bangku yang tersusun rapi di sepanjang pantai. Kita bisa duduk di sana sambil menikmati semilir angin dan pemandangan dermaga yang cukup sibuk. Oh ya, sekilas, kita bisa melihat Pulau Batam nun jauh di sana. Kemarilah di saat pagi hari supaya memiliki banyak waktu untuk eksplor setiap sudutnya. 

Benar adanya jika Singapura adalah surga bagi pejalan kaki. Jika kita berjalan kaki dari tepi pantai Labrador Park menuju ke arah timur, kita bisa menembus Vivo City. Dan jika kuat, bisa sekalian menyeberang ke Pulau Sentosa. Sayangnya, penulis sudah sedikit kelelahan dan harus segera kembali ke hostel untuk check out. Selain itu, ia perlu bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya ke Johor Bahru untuk bersua kawan lama. 

Pemandangan dermaga

Papan petunjuk etika memancing

Trestel (?)

Pantai dan bangku

Pemandangan dari Taman Labrador

Trail ke arah timur

Pada akhirnya, Singapura bukan lagi sekadar kota beton yang dulu dengan mudah ia remehkan. Di sela taman-taman yang hijau, bangku-bangku yang mengundang untuk duduk lebih lama, dan secangkir kopi yang diseduh dengan penuh perhatian, penulis perlahan memahami mengapa ia terus kembali — meski berkali-kali bersumpah tak akan lagi. Mungkin bukan kotanya yang berubah, melainkan dirinya. Ada fase hidup ketika seseorang tak lagi mencari destinasi yang 'baru', melainkan ruang untuk berjalan pelan, mengamati, dan merasakan 'inilah rasanya jika hidup di negara yang pemerintahannya becus'. Singapura, dengan segala keteraturannya, pantas untuk dikunjungi berkali-kali — terlepas dari mahalnya biaya hidup di sini. Barangkali benar, kota ini memiliki mantra tersembunyi, bukan untuk memikat semua orang, tapi cukup kuat untuk membuat sebagian orang kembali, lagi dan lagi, tanpa benar-benar tahu alasannya.


Si paling berharap bisa menjelajah taman-taman lain, 

Wuls~

Bonus: tiket pesawat harga promo
Bonus (lagi): Achieve the target (10k steps!)


0 komentar

Instagram

Featured Post

Serba-Serbi Persiapan Solo Trekking ke Poon Hill Nepal

Perjalanan solo ke Nepal ini lahir dari dua kata: promo dan penat. Dapat promo tiket pesawat maskapai full service ditambah dengan hidup ras...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *